Gatot Widodo, Seniman Bojonegoro yang Mendunia

1
4220

Di sebuah rumah di Gg. Makam Sedeng, Kepatihan, Bojonegoro, tampak beberapa karya lukisan yang tertata seadanya. Beberapa lainnya bahkan berserakan di lantai. Rumah tersebut milik Gatot Widodo, seniman kenamaan asal Bojonegoro.

Sudah beberapa bulan ini pria 48 tahun tersebut kembali pulang ke Bojonegoro, setelah sebelumnya menetap di Yogyakarta. Dalam waktu dekat, ia akan menggelar pameran tunggal di Bojonegoro. Puluhan karya pun sudah disiapkan untuk acara tersebut.

“Kebetulan ada teman yang menjadi manager hotel di sini yang memfasilitasi rencana pameran nanti,” ujarnya.

Pameran karya seni lukis itu rencananya akan digelar pada 28 November 2016, di Aston City Hotel Bojonegoro. Penyelenggaraan pameran ini awalnya tanpa perencanaan, meski demikian, karya-karya terbaik seniman asli Bojonegoro itu akan ditampilkan.

“Ada sekitar 30 sampai 50 karya yang akan ditampilkan, ada batik painting, panel dan lukisan,” ungkapnya.

Pameran tunggal di Bojonegoro ini akan mengambil tema Negeri yang Sejati. Secara filosofis, makna dari Negeri yang Sejati adalah jiwa dan hati.

“Sejatinya negeri dapat dilihat dari jiwa dan hati masyarakatnya,” terang Gatot Widodo.

Nama Gatot Widodo sudah cukup banyak dikenal di kalangan seniman-seniman nasional, khususnya Yokyakarta. Seniman nyentrik ini menempuh pendidikan seni di FSR ISI Yogyakarta pada tahun 1988 dan lulus pada 1998.

“Saya kuliah sampai 10 tahun, ya karena sejak semester awal sudah sering ikut pameran,” kenangnya sambil terbahak.

Selama 30 tahun berkecimpung dalam dunia seni, ratusan karya-karya indah tercipta lewat goresan tangannya. Berbagai penghargaan pun pernah ia raih. Ia pernah mendapat penghargaan Grand Prize Design T-Shirt di Tokyo, Jepang pada tahun 1996. Di tahun 2008, ia mendapat penghargaan sebagai 150 ribu pelukis muda dunia saat pameran lelang di Beijing, Tiongkok, lewat karya lukisan Senja di Tahun Naga.

Dari banyak karya yang sudah dihasilkannya, salah satu karya yang menjadi favoritnya adalah lukisan Berburu Gajah di Padang Biru. Keunikan dari lukisan ini, meski figur manusia digambarkan saling berhimpitan, namun setiap sisi dari mere­ka juga membentuk figur lain. Hal serupa juga terjadi pada sosok gajah-gajah yang digambarkan saling berhimpitan.

Lukisan ini sebagai ekspresi kekecewaan atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa membebani rakyat.

Lewat karya-kayanya, Gatot Widodo sudah mengikuti pameran di banyak negara, di antaranya pameran di Tiongkok, Singapura, Jerman, Belanda dan yang baru-baru ini ia baru saja menggelar pameran tunggal di Chicago, Amerika Serikat, pada Maret 2016.

“Menjadi seniman adalah pilihan hidup yang saya ambil, saya sudah siap susah,” tutur penggemar karya seniman Perancis, Eugène Henri Paul Gauguin tersebut.

Ia menegaskan bahwa menjadi seniman tak dapat diajarkan, karena itu adalah panggilan jiwa. Ia pun mengapresiasi dengan banyaknya generasi muda Bojonegoro yang mencintai dunia seni.

“Seniman-seniman Bojonegoro harus berani keluar, agar kita tidak seperti katak di dalam tempurung. Potensi dari seniman kita ini bagus-bagus,” pungkasnya dengan optimis.

SHARE

1 COMMENT

  1. Keren semoga Allah ijabah apa”yang sudaah kehendaki
    teruslah berjuang
    niscaya Allah akan mewujudkan segala niat baik
    Betapa banyak kegalalan yang bukan
    terletak pada kerja keras dan usaha
    Tapi pada niat dan ketulusan
    dalam berkata jujur,tulus beramal dan berkarya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here